BANGKA - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melalui Bidang Persandian dan Keamanan Informasi memberikan pemahaman berkenaan dengan upaya meningkatkan kapasitas perangkat daerah (PD) di Kabupaten Bangka, dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks di era transformasi digital.

Kegiatan yang dilaksanakan melalui Sosialisasi Computer Security Incident Response Team (CSIRT) di Pemkab Bangka, Kamis (16/7/2026) tersebut, menghadirkan Kepala Diskominfo Babel, Eko Sentosa diwakili Manggala Informatika Ahli Madya Diskominfo Babel, Herry Nugraha, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Herry menjelaskan pentingnya membangun kemampuan setiap perangkat daerah dalam mendeteksi, merespons, dan memulihkan insiden keamanan siber guna menjaga keberlangsungan layanan publik berbasis digital.

Materi yang disampaikan tidak hanya membahas konsep dasar keamanan siber, tetapi juga praktik penanganan insiden yang dapat diterapkan di lingkungan pemerintah daerah.

Menurut Herry, transformasi digital melalui penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) telah memberikan banyak manfaat bagi peningkatan kualitas pelayanan publik.

Namun di sisi lain, semakin banyak layanan yang terhubung ke internet juga memperbesar potensi ancaman siber, seperti malware, phishing, ransomware, dan social engineering yang dapat mengganggu operasional pemerintahan serta menurunkan kepercayaan masyarakat.

"Keamanan siber bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola teknologi informasi, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh aparatur pemerintah. Yang kita lindungi bukan hanya server atau aplikasi, melainkan pelayanan publik yang dimanfaatkan masyarakat setiap hari," ujar Herry.

Herry menjelaskan, CSIRT merupakan tim yang bertugas menerima, meninjau, menganalisis, serta merespons berbagai laporan insiden keamanan komputer secara cepat dan terkoordinasi.

Keberadaan BabelProv-CSIRT menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Herry menguraikan siklus penanganan insiden yang terdiri atas tahapan Preparation, Detection & Analysis, Containment, Eradication, Recovery, hingga Lessons Learned.

Menurutnya, setiap perangkat daerah harus memiliki prosedur yang jelas agar setiap insiden keamanan siber dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi sehingga dampaknya dapat diminimalkan dan layanan pemerintahan dapat segera dipulihkan.

Di akhir kegiatan, Herry mengajak seluruh peserta untuk membangun budaya keamanan informasi melalui penerapan praktik terbaik keamanan siber, seperti menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi multifaktor (MFA), memperbarui sistem secara berkala, melakukan pencadangan data, serta segera melaporkan setiap indikasi insiden keamanan kepada BabelProv-CSIRT.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkannya, seluruh perangkat daerah di Kabupaten Bangka semakin memahami pentingnya budaya keamanan informasi dan mampu berperan aktif dalam mencegah, mendeteksi, serta menangani insiden siber secara cepat dan terkoordinasi.

Penguatan kapabilitas CSIRT di lingkungan pemerintah daerah di Kabupaten Bangka, masih kata dia, diharapkan mampu mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan digital yang aman, andal, dan terpercaya.

Para peserta yang hadir dalam kesempatan tersebut juga memperoleh pemahaman mengenai layanan yang diberikan BabelProv-CSIRT, meliputi layanan reaktif seperti penanganan insiden, penanganan kerawanan, pemberian peringatan dini, hingga pemulihan sistem.

Di samping itu, tersedia pula layanan proaktif berupa audit keamanan, analisis risiko, serta edukasi dan pelatihan keamanan siber bagi perangkat daerah.